Kenyataan atau realitas itu adalah “here and now”, artinya kenyataan itu adalah apa yang sedang kita alami disini dan saat ini. Banyak orang yang berkata seperti ini “kenapa kenyataan hidupku selalu buruk”, padahal pada saat dia berkata seperti itu, belum tentu dia sedang menghadapi kenyataan yang buruk juga seperti saat sebelumnya. Kenyataan kadang kala selalu di kaitkan dengan suatu masalah yang buruk, sebenarnya tidak seperti itu. Kenyataan juga sering terdapat kenyataan yang membahagiakan bagi yang mengalaminya. Banyak orang yang tidak bisa menerima kenyataan dalam hidupnya dan mungkin secara tidak sadar saya juga pernah mengalaminya. Mereka yang tidak bisa menerima kenyataan buruk dalam hidupnya sering menyalahkan Tuhan atau bertanya-tanya mengapa semua ini yang harus tejadi, pertanyaan itulah yang sering kita lontarkan saat kenyataan yang kita hadapi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan atau bahkan kita tdak pernah menduganya sama sekali.
Bagi saya semua kenyataan yang sedang saya hadapi adalah kuasa dan hadiah dari Tuhan. Apapun yang saya dapatkan baik itu suatu kenyataan yang baik atau buruk, saya coba menjalaninya dengan apa adanya. Karena apapun yang saya lakukan, kemanapun saya melangkah itu adalah kenyataan yang memang Tuhan berikan pada saya.
Secara rasional kita sebagai manusia harus menyadari bahwa apa yang kita hadapi dan kita jalani, yang ada di depan mata kita adalah kenyataan hidup kita. Orang yang tidak bisa menerima kenyataan dalam hidupnya berarti dia tidak menyadari keberadaan Tuhan akan hidupnya, dia tidak menyadari bahwa Tuhan menganugerahi itu semua untuknya. Dia cenderung “menutup mata” ketika dia mendapatkan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya karena takut untuk menghadapinya. Dan cenderung “membuka mata” ketika kenyataan itu sesuai dengan harapannya karena dia tidak mau melewatkan semua itu begitu saja. Memang sangat sulit ketika kita dihadapkan pada realitas yang tidak menyenangkan bagi kita.
Bagi saya kenyataan atau realitas harus dihadapi dan dijalani sebagaimana mestinya. Jangan lari dari kenyataan hidupmu, karena kenyataan itu adalah mutlak adanya dan kita tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan itu. Kenyataan sampai kapanpun akan selalu dihadirkan oleh Tuhan seumur hidup kita. Baik ataupun buruk kenyataan yang ada saat ini dan disini, hadapilah, jalanilah dan terimalah sepenuhnya dengan suka cita dan keikhlasan. Saya selalu yakin tidak selamanya manusia itu diberikan kenyataan yang selalu buruk dan tidak selamanya juga manusia diberikan kenyataan yang selalu menyenangkan. Tidak semua kenyataan atau realitas itu selalu sesuai dengan apa yang manusia harapakan, semua itu adalah kehendak Tuhan.
Buka mata, hati dan pikiran. Lalu sadari dan pahami setiap apapun yang sedang kita hadapi saat ini. Lalui dengan sebaik mungkin sesuai dengan kehendak Tuhan dan apa adanya.
Selasa, 13 April 2010
Gangguan Disintegrasi Anak
Gangguan disintegrasi Anak (CDD), juga dikenal sebagai Sindrom psikosis Heller dan disintegrasi, adalah kondisi yang jarang terjadi ditandai dengan onset terlambat (> 3 tahun) dari perkembangan keterlambatan bahasa , fungsi sosial , dan keterampilan motorik . Para peneliti belum berhasil menemukan penyebab untuk gangguan . CDD memiliki beberapa kesamaan dengan autisme , dan kadang-kadang dianggap sebagai bentuk yang berfungsi rendah, tapi periode normal jelas pembangunan cukup sering dicatat sebelum regresi dalam keterampilan atau serangkaian regresi dalam keterampilan. Banyak anak-anak sudah agak tertunda ketika penyakit menjadi jelas, tetapi penundaan ini tidak selalu jelas pada anak-anak.
Gangguan disintegratif masa kanak-kanak, anak yang rupanya normal mulai bertindak lebih muda (mundur) sesudah usia 3.
Pada kebanyakan anak, perkembangan fisik dan jiwa terjadi dengan cepat. Sering terjadi pada anak untuk mengalami langkah mundur; misalnya, seorang anak yang terlatih ke WC sekali-sekali mengompol. Gangguan masa kecil disintegratif, tetapi, adalah kekacauan serius yang langka dimana seorang anak dengan usia lebih dari3 berhenti berkembang sevcara normal dan mengalami kemunduran pada banyak fungsi di bawahnya, biasanya mengikuti sakitnya gawat, seperti infeksi otak dan susunan syaraf.
CIRI-CIRI :
Ciri anak dengan gangguan disintegratif masa kanak-kanak berkembang secara normal sampai usia 3 atau 4 tahun, mempelajari ketrampilan wicara, buang air dengan benar, dan memperlihatkan prilaku sosial yangs sesuai. Lalu, setelah beberapa minggu atau bulan anak cepat-marah dan murung, anak menjalani kemunduran nyata. Dia mungkin kehilangan kemampuan berbahasa yang diperoleh dulunya, gerakan, atau ketrampilan sosial, dan dia mungkin tidak lagi mempunyai kontrol pada kandung kemih atau usus besarnya. Juga, anak mengalami kesukaran dengan interaksi sosial dan mulai melakukan kelakuan berulang mirip yang terjadi pada anak dengan penyakit autisme. Cukup sering anak lambat laun memburuk sampai derajat yang sangat terbelakang. Seorang dokter membuat diagnosa berdasarkan gejala dan pencarian untuk akar gangguan.
Gangguan disintegratif masa kanak-kanak tidak bisa diobati secara khusus atau disembuhkan, dan kebanyakan anak, khususnya dengan keterbelakangan yang parah, memerlukan perawatan seumur hidup.
Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Childhood_disintegrative_disorder
Gangguan disintegratif masa kanak-kanak, anak yang rupanya normal mulai bertindak lebih muda (mundur) sesudah usia 3.
Pada kebanyakan anak, perkembangan fisik dan jiwa terjadi dengan cepat. Sering terjadi pada anak untuk mengalami langkah mundur; misalnya, seorang anak yang terlatih ke WC sekali-sekali mengompol. Gangguan masa kecil disintegratif, tetapi, adalah kekacauan serius yang langka dimana seorang anak dengan usia lebih dari3 berhenti berkembang sevcara normal dan mengalami kemunduran pada banyak fungsi di bawahnya, biasanya mengikuti sakitnya gawat, seperti infeksi otak dan susunan syaraf.
CIRI-CIRI :
Ciri anak dengan gangguan disintegratif masa kanak-kanak berkembang secara normal sampai usia 3 atau 4 tahun, mempelajari ketrampilan wicara, buang air dengan benar, dan memperlihatkan prilaku sosial yangs sesuai. Lalu, setelah beberapa minggu atau bulan anak cepat-marah dan murung, anak menjalani kemunduran nyata. Dia mungkin kehilangan kemampuan berbahasa yang diperoleh dulunya, gerakan, atau ketrampilan sosial, dan dia mungkin tidak lagi mempunyai kontrol pada kandung kemih atau usus besarnya. Juga, anak mengalami kesukaran dengan interaksi sosial dan mulai melakukan kelakuan berulang mirip yang terjadi pada anak dengan penyakit autisme. Cukup sering anak lambat laun memburuk sampai derajat yang sangat terbelakang. Seorang dokter membuat diagnosa berdasarkan gejala dan pencarian untuk akar gangguan.
Gangguan disintegratif masa kanak-kanak tidak bisa diobati secara khusus atau disembuhkan, dan kebanyakan anak, khususnya dengan keterbelakangan yang parah, memerlukan perawatan seumur hidup.
Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Childhood_disintegrative_disorder
SINDROM RETT
Deskripsi
Sindrom Rett terjadi akibat kelainan genetik yang mempengaruhi cara otak berkembang. Sindrom ini terjadi secara eksklusif pada anak perempuan. Sindrom Rett mengakibatkan gejala mirip dengan autisme. Banyak bayi dengan sindrom Rett berkembang secara normal pada awalnya, tetapi perkembangannya sering terhambat pada saat mencapai usia 18 bulan. Seiring waktu, anak-anak dengan sindrom Rett fungsi motorik untuk menggunakan tangan, berbicara, berjalan, mengunyah dan bahkan bernapas mereka tidak normal.
Gejala
Gejala Sindrom Rett bervariasi dari anak ke anak. Beberapa bayi menunjukkan tanda-tanda dari gangguan sejak lahir tanpa periode perkembangan normal. Penderita lain memiliki gejala lebih ringan dan dapat mempertahankan kemampuan untuk berbicara. Beberapa anak bahkan mengalami kejang-kejang.
Sindrom Rett umumnya dibagi menjadi empat tahap:
* Tahap I
Tanda dan gejala pada tahap awal biasanya diabaikan selama 6 bulan sampai 18 bulan. Sindrom Rett pada Bayi menunjukkan tanda bayi kurang kontak mata dan mulai kehilangan minat pada mainan. Bayi juga mengalami penundaan dalam duduk atau merangkak.
* Tahap II
Tahap II mulai antara usia 1 sampai 4 tahun, anak-anak dengan sindrom Rett secara bertahap kehilangan kemampuan untuk berbicara dan menggunakan tangan mereka secara sengaja. Gerkaan lain seperti gerakan tangan--meremas-remas, mencuci, bertepuk tangan atau mengetuk juga sulit dilakukan penderita. Beberapa anak dengan sindrom Rett menahan napas atau hiperventilasi dan berteriak atau menangis tanpa sebab.
* Tahap III
Tahap ketiga adalah puncak gejala yang biasanya dimulai antara usia 2 sampai 10 tahun dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Walaupun masalah dengan mobilitas berlanjut, perilaku dapat diperbaiki. Anak-anak di tahap ini sering kurang menangis, tidak mudah marah, menunjukkan peningkatan kewaspadaan, rentang perhatian dan keterampilan komunikasi nonverbal. Banyak orang dengan sindrom Rett hidup dengan gejala di tahap III sampai sisa hidup mereka.
* Tahap IV
Tahap terakhir ditandai dengan berkurangnya mobilitas, kelemahan otot dan scoliosis (kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang). Tanda lain yakni kurangnya pengertian, komunikasi dan keterampilan tangan. Pada kenyataannya, gerakan tangan yang berulang dapat berkurang. Meskipun kematian mendadak dalam tidur dapat terjadi, sebagian besar orang dengan sindrom Rett hidup sampai mereka berusia 40 sampai 50-an. Mereka biasanya membutuhkan perawatan dan bantuan sepanjang hidup.
Pengobatan
Pengobatan Sindrom Rett memerlukan pendekatan lintas disiplin, termasuk perawatan medis yang teratur; fisik, okupasi dan terapi wicara, dan akademis, sosial dan pelayanan kejuruan. Kebutuhan untuk tingkat perawatan dan dukungan tidak berakhir sebagai anak-anak menjadi lebih tua dan biasanya diperlukan sepanjang hidup.
Pengobatan yang dapat membantu anak-anak dan orang dewasa dengan Sindrom Rett meliputi:
* Obat-obatan
Meskipun obat tidak dapat menyembuhkan sindrom Rett, penderita terbantu untuk mengendaklikan gejala yang terkait dengan kelainan, seperti kejang-kejang dan kekakuan otot.
* Terapi Fisik dan Wicara
Terapi fisik dan penggunaan kawat gigi atau gips dapat membantu anak-anak yang menderita scoliosis. Dalam beberapa kasus, terapi fisik juga dapat membantu mempertahankan berjalan, keseimbangan dan fleksibilitas, sementara terapi okupasi dapat memperbaiki penggunaan tangan. Terapi wicara dapat membantu meningkatkan kehidupan anak dengan mengajarkan cara-cara berkomunikasi nonverbal.
* Dukungan Gizi
Gizi yang tepat sangat penting bagi pertumbuhan normal dan untuk meningkatkan fungsi mental dan sosial. Beberapa anak dengan Sindrom Rett dapat "membutuhkan" lemak tinggi dan makanan berkalori tinggi. Dukungan gizi juga diberikan melalui hidung (selang nasogastrik) atau langsung di perut.
Sumber : medlineplus dan mayoclinic.
Sindrom Rett terjadi akibat kelainan genetik yang mempengaruhi cara otak berkembang. Sindrom ini terjadi secara eksklusif pada anak perempuan. Sindrom Rett mengakibatkan gejala mirip dengan autisme. Banyak bayi dengan sindrom Rett berkembang secara normal pada awalnya, tetapi perkembangannya sering terhambat pada saat mencapai usia 18 bulan. Seiring waktu, anak-anak dengan sindrom Rett fungsi motorik untuk menggunakan tangan, berbicara, berjalan, mengunyah dan bahkan bernapas mereka tidak normal.
Gejala
Gejala Sindrom Rett bervariasi dari anak ke anak. Beberapa bayi menunjukkan tanda-tanda dari gangguan sejak lahir tanpa periode perkembangan normal. Penderita lain memiliki gejala lebih ringan dan dapat mempertahankan kemampuan untuk berbicara. Beberapa anak bahkan mengalami kejang-kejang.
Sindrom Rett umumnya dibagi menjadi empat tahap:
* Tahap I
Tanda dan gejala pada tahap awal biasanya diabaikan selama 6 bulan sampai 18 bulan. Sindrom Rett pada Bayi menunjukkan tanda bayi kurang kontak mata dan mulai kehilangan minat pada mainan. Bayi juga mengalami penundaan dalam duduk atau merangkak.
* Tahap II
Tahap II mulai antara usia 1 sampai 4 tahun, anak-anak dengan sindrom Rett secara bertahap kehilangan kemampuan untuk berbicara dan menggunakan tangan mereka secara sengaja. Gerkaan lain seperti gerakan tangan--meremas-remas, mencuci, bertepuk tangan atau mengetuk juga sulit dilakukan penderita. Beberapa anak dengan sindrom Rett menahan napas atau hiperventilasi dan berteriak atau menangis tanpa sebab.
* Tahap III
Tahap ketiga adalah puncak gejala yang biasanya dimulai antara usia 2 sampai 10 tahun dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Walaupun masalah dengan mobilitas berlanjut, perilaku dapat diperbaiki. Anak-anak di tahap ini sering kurang menangis, tidak mudah marah, menunjukkan peningkatan kewaspadaan, rentang perhatian dan keterampilan komunikasi nonverbal. Banyak orang dengan sindrom Rett hidup dengan gejala di tahap III sampai sisa hidup mereka.
* Tahap IV
Tahap terakhir ditandai dengan berkurangnya mobilitas, kelemahan otot dan scoliosis (kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang). Tanda lain yakni kurangnya pengertian, komunikasi dan keterampilan tangan. Pada kenyataannya, gerakan tangan yang berulang dapat berkurang. Meskipun kematian mendadak dalam tidur dapat terjadi, sebagian besar orang dengan sindrom Rett hidup sampai mereka berusia 40 sampai 50-an. Mereka biasanya membutuhkan perawatan dan bantuan sepanjang hidup.
Pengobatan
Pengobatan Sindrom Rett memerlukan pendekatan lintas disiplin, termasuk perawatan medis yang teratur; fisik, okupasi dan terapi wicara, dan akademis, sosial dan pelayanan kejuruan. Kebutuhan untuk tingkat perawatan dan dukungan tidak berakhir sebagai anak-anak menjadi lebih tua dan biasanya diperlukan sepanjang hidup.
Pengobatan yang dapat membantu anak-anak dan orang dewasa dengan Sindrom Rett meliputi:
* Obat-obatan
Meskipun obat tidak dapat menyembuhkan sindrom Rett, penderita terbantu untuk mengendaklikan gejala yang terkait dengan kelainan, seperti kejang-kejang dan kekakuan otot.
* Terapi Fisik dan Wicara
Terapi fisik dan penggunaan kawat gigi atau gips dapat membantu anak-anak yang menderita scoliosis. Dalam beberapa kasus, terapi fisik juga dapat membantu mempertahankan berjalan, keseimbangan dan fleksibilitas, sementara terapi okupasi dapat memperbaiki penggunaan tangan. Terapi wicara dapat membantu meningkatkan kehidupan anak dengan mengajarkan cara-cara berkomunikasi nonverbal.
* Dukungan Gizi
Gizi yang tepat sangat penting bagi pertumbuhan normal dan untuk meningkatkan fungsi mental dan sosial. Beberapa anak dengan Sindrom Rett dapat "membutuhkan" lemak tinggi dan makanan berkalori tinggi. Dukungan gizi juga diberikan melalui hidung (selang nasogastrik) atau langsung di perut.
Sumber : medlineplus dan mayoclinic.
SINDROM ASPERGER
Sekilas penderita sindrom asperger terlihat normal, tidak memiliki gangguan fisik dan punya tingkat kecerdasan yang normal. Masalah baru timbul ketika penderita harus berinteraksi dengan orang lain.
Penderita sindrom asperger terlihat aneh dan tidak memiliki perhatian dan empati ketika berkomunikasi dengan orang. Penderita tidak tahu arti bahasa tubuh seperti tersenyum, wajah sedih, gembira sehingga orang yang tidak tahu bahwa lawan bicaranya pengidap sindrom asperger akan mengecapnya aneh.
Kemampuan mengartikan bahasa yang dimiliki juga terbatas dan sering mengulang-ulang atau memberikan komentar yang tidak relevan kepada lawan bicaranya. Jadinya penderita sindrom terlihat sangat kaku dan formal, kadang suka memotong pembicaraan orang, berdiri terlalu dekat atau memandang lawan bicaranya terlalu lama.
Itu semua terjadi karena penderita sindrom asperger tidak memahami gerakan-gerakan atau ekspresi wajah lawan bicaranya dan sulit untuk bicara ke topik lain.
Penyakit kelainan sindrom asperger memang masih terasa asing didengar. Kelainan ini biasanya baru dapat didiagnossis pada saat usia anak antara 5 tahun sampai 9 tahun. Sindrom asperger seringkali sulit untuk didiagnosis dan diobati.
Sindrom asperger adalah kelainan saraf (neurobiological) dan merupakan bagian dari autism spectrum disorders. Disebut dengan istilah 'autism spectrum' karena mengacu gangguan perkembangan saraf termasuk autisme serta gangguan lain yang memiliki karakteristik serupa.
Gejala yang dialami oleh penderita sindrom asperger seringkali sulit dibedakan dengan masalah perilaku yang lain. Karaktersitik yang paling menonjol adalah memiliki interaksi sosial yang buruk, obsesi, pola bicara yang aneh serta perilaku aneh lainnya.
Tanda serta gejala lainnya adalah memiliki interaksi sosial yang sedikit, percakapan hampir selalu seputar diri sendiri daripada orang lain, sering mengulang-ulang pembicaraan, kurang menggunakan akal sehat, memiliki masalah dalam matematika atau keterampilan menulis, memiliki kemampuan kognitif (pemahaman) nonverbal di bawah rata-rata meskipun kemampuan verbal kognitifnya di atas rata-rata, canggung dalam melakukan gerakan serta berperilaku aneh.
Hal yang sangat penting adalah sindrom asperger mungkin tidak menunjukkan keterlambatan dalam perkembangan bahasa, namun memiliki masalah dalam penggunaan masalah di lingkungan sosial.
Sampai saat ini diperkirakan penyebabnya adalah faktor turunan dan pada beberapa kasus dihubungkan dengan kelainan mental seperti depresi dan bipolar disorder, serta ada kemungkinan faktor lingkungan juga mempengaruhi.
Untuk mendiagnosis sindrom asperger sangat sulit, karena biasanya memiliki beberapa aspek kehidupan yang sangat baik. Para ahli kesehatan mental menilai penting untuk melakukan intervensi awal. Intervensi ini melibatkan pelatihan pendidikan dan kemampuan sosial yang dilakukan saat otak anak masih berkembang. Selain itu cermat dalam melihat perilaku anak seperti kegiatan favorit atau kebiasaan yang tidak biasa.
Penanganan untuk sindrom asperger adalah dengan melakukan pelatihan kemampuan sosial, terapi bahasa, memilih intervensi pendidikan khusus untuk anaknya, pelatihan untuk kemampuan sensoriknya, meminta bantuan psikoterapi serta jika dibutuhkan menggunakan bantuan obat-obatan.
Dukungan besar dari orangtua serta lingkungan keluarga dan sekitarnya sangat membantu perkembangan penderita sindrom asperger. Meskipun mengalami kelainan tapi penserita sindrom asperger tetap bisa membanggakan atau berprestasi, karena biasanya memiliki kelebihan di bidang lain jika dibandingkan dengan orang yang normal.
Sumber : http://health.detik.com
Penderita sindrom asperger terlihat aneh dan tidak memiliki perhatian dan empati ketika berkomunikasi dengan orang. Penderita tidak tahu arti bahasa tubuh seperti tersenyum, wajah sedih, gembira sehingga orang yang tidak tahu bahwa lawan bicaranya pengidap sindrom asperger akan mengecapnya aneh.
Kemampuan mengartikan bahasa yang dimiliki juga terbatas dan sering mengulang-ulang atau memberikan komentar yang tidak relevan kepada lawan bicaranya. Jadinya penderita sindrom terlihat sangat kaku dan formal, kadang suka memotong pembicaraan orang, berdiri terlalu dekat atau memandang lawan bicaranya terlalu lama.
Itu semua terjadi karena penderita sindrom asperger tidak memahami gerakan-gerakan atau ekspresi wajah lawan bicaranya dan sulit untuk bicara ke topik lain.
Penyakit kelainan sindrom asperger memang masih terasa asing didengar. Kelainan ini biasanya baru dapat didiagnossis pada saat usia anak antara 5 tahun sampai 9 tahun. Sindrom asperger seringkali sulit untuk didiagnosis dan diobati.
Sindrom asperger adalah kelainan saraf (neurobiological) dan merupakan bagian dari autism spectrum disorders. Disebut dengan istilah 'autism spectrum' karena mengacu gangguan perkembangan saraf termasuk autisme serta gangguan lain yang memiliki karakteristik serupa.
Gejala yang dialami oleh penderita sindrom asperger seringkali sulit dibedakan dengan masalah perilaku yang lain. Karaktersitik yang paling menonjol adalah memiliki interaksi sosial yang buruk, obsesi, pola bicara yang aneh serta perilaku aneh lainnya.
Tanda serta gejala lainnya adalah memiliki interaksi sosial yang sedikit, percakapan hampir selalu seputar diri sendiri daripada orang lain, sering mengulang-ulang pembicaraan, kurang menggunakan akal sehat, memiliki masalah dalam matematika atau keterampilan menulis, memiliki kemampuan kognitif (pemahaman) nonverbal di bawah rata-rata meskipun kemampuan verbal kognitifnya di atas rata-rata, canggung dalam melakukan gerakan serta berperilaku aneh.
Hal yang sangat penting adalah sindrom asperger mungkin tidak menunjukkan keterlambatan dalam perkembangan bahasa, namun memiliki masalah dalam penggunaan masalah di lingkungan sosial.
Sampai saat ini diperkirakan penyebabnya adalah faktor turunan dan pada beberapa kasus dihubungkan dengan kelainan mental seperti depresi dan bipolar disorder, serta ada kemungkinan faktor lingkungan juga mempengaruhi.
Untuk mendiagnosis sindrom asperger sangat sulit, karena biasanya memiliki beberapa aspek kehidupan yang sangat baik. Para ahli kesehatan mental menilai penting untuk melakukan intervensi awal. Intervensi ini melibatkan pelatihan pendidikan dan kemampuan sosial yang dilakukan saat otak anak masih berkembang. Selain itu cermat dalam melihat perilaku anak seperti kegiatan favorit atau kebiasaan yang tidak biasa.
Penanganan untuk sindrom asperger adalah dengan melakukan pelatihan kemampuan sosial, terapi bahasa, memilih intervensi pendidikan khusus untuk anaknya, pelatihan untuk kemampuan sensoriknya, meminta bantuan psikoterapi serta jika dibutuhkan menggunakan bantuan obat-obatan.
Dukungan besar dari orangtua serta lingkungan keluarga dan sekitarnya sangat membantu perkembangan penderita sindrom asperger. Meskipun mengalami kelainan tapi penserita sindrom asperger tetap bisa membanggakan atau berprestasi, karena biasanya memiliki kelebihan di bidang lain jika dibandingkan dengan orang yang normal.
Sumber : http://health.detik.com
Senin, 29 Maret 2010
GANGGUAN PERKEMBANGAN PERVASIF
Anak-anak dengan gangguan perkembangan pervasif (pervasif developmental disorder/PDDs) menunjukan hendaknya perilaku atau fungsi pada berbagai area perkembangan. Gangguan ini umumnya menjadi tampak nyata pada tahun-tahun pertama kehidupan dan sering kali dihubungkan dengan retardasi mental. Gangguan ini umumnya diklasifikasikan sebagai bentuk psikosis pada edisi awal DSM. Keanehan dalam berkomunikasi dan perilaku motorik yang stereotip.
-Fokus kita disini nanti adalah Gangguan Autis (Autisme).
-Gangguan Asperger (Asperger’s disorder) ditunjukan dengan adanya deficit pada
Interaksi sosial dan perilaku stereotip. Gangguan Asperger tidak melibatkan deficit yang signifikan pada kemampuan bahasa dan kognitif (APA,2000;Szatmari dkk 2000).
Type gangguan perkembangan pervasif yang lebih jarang muncul, mencakup
- Gangguan Rett (Rett’s disorder), gangguan yang dilaporkan hanya terjadi pada wanita
- Gangguan Disintegratif masa kanak-kanak (childhood disintegrative disorder), kondisi yang jarang ada, biasanya muncul pada laki-laki.
Sumber : http://www.masbow.com/2009/11/gangguan-perkembangan-pervasif.html
Apa Itu Autisme??
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autisme (autism), atau gangguan austistik, adalah salah satu gangguan terparah di masa kanak-kanak. Bersifat kronis dan berlangsung sepanjang hidup.
Autisme berasal dari bahasa Yunani, autos yang berarti “self.” Pertama kali digunakan tahun 1906 oleh psikiater Swiss, Eugen Bleuler, untuk merujuk pada gaya berpikir yang aneh pada penderita skizofrenia. Cara berfikir autistic adalah kecenderungan untuk memandang diri sendiri sebagai pusat dari dunia, percaya bahwa kejadian-kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri. Seolah-olah mereka hidup dalam dunia mereka sendiri, menutup diri dari setiap masukan dunia luar.
Kata autisme berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pada umumnya penderita autisme mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).
Pemakaian istilah autisme kepada penderita diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penderita yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.
Sumber : http://www.masbow.com/2009/11/gangguan-perkembangan-pervasif.html
Angka Kejadian Kasus Autisme…
Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak, serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik.
Jumlah anak yang terkena autisma makin bertambah. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autisme per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia.Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autisma meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autisma. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.
Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belunm diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakanjumlah anak austime dapat mencapai 150 --200 ribu orang.
Penelitian Deb & Prasad, 1994 di Skotlandia menemukan bahwa dikalangan anak-anak dengan gangguan belahjar prevalensi autisma mencapai 14,3% dan di anatara usia sekolah prevalensinya 9 per 10.000. Penderita di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan dan angka kejadian dari tahun ke tahun cenderung terus meningkat.
Apa Saja Gejala-Gejala Dari Autisme??
Anak yang menderita autis sebenarnya dapat diketahui sejak usia dini. Karena umumnya gangguan ini muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Hanya kebanyakan orangtua kurang aware dengan gejala yang timbul pada anaknya hingga usia empat tahun.
Padahal pada usia tersebut, anak sudah larut dengan dunianya sendiri sehingga tidak bisa berkomunikasi dan berinterkasi dengan teman-teman dan lingkungannya. Ketika kondisi tersebut terlambat diketahui, maka langkah utama yang harus dilakukan ialah memfokuskan kelebihan anak di bidang tertentu yang dikuasainya.
• Gangguan dalam komunikasi verbal dan nonverbal
Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara
Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata – kata dalam konteks yang sesuai
Kadang bicara monoton seperti robot
Mimik muka datar
Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat.
• Gangguan dalam interksi social
Menolak atau menghindar untuk bertatap muka
Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya
Bila didekati untuk bermain justru menjauh
Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun.
• Gangguan dalam persaan dan emosi
Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan di datangi dan dipukulnya
Tertawa – tawa sendiri , menangis atau marah – marah tanpa sebab yang nyata
Sering mengamuk tidak terkendali (temper tantrum) , terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif.
Penyebab Autisme…
Penyebab autisme belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autisme disebabkan karena terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autisme.
Sepuluh tahun yang lalu penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada factor psikologis saja.
Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks.
Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak .
Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak , antara lain ; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, gangguan imunologis, gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus.
Autis Pada Bayi…
Kebanyakan orangtua mengetahui gejala-gejala karakter yang berbeda terhadap anak-anaknya pada usia anak 1 sampai 3 tahun. Pada kasus-kasus tertentu ada beberapa orangtua yang dapat mengenai gejala tersebut lebih dini pada masa pertumbuhan bayi/anak.
Gejala-gejala seperti misalnya bayi tidak menangis bila ditinggal sendirian, menunjukkan kegelisahan yang sangat bila berhadapan dengan orang asing bagi dirinya, berceloteh sendiran, menggunakan bahasa isyarat seperti misalnya bertepuk tangan, menunjukkan tangan, sangat menikmati permainan dan asyik bermain sendirian—semua tanda yang menyerupai karakteristik bayi.
Tidak ada satu orangtuapun yang dapat mengenali bayi mereka akan terjadinya gejala Autis pada bayi mereka, karena bagi para orangtua bayi mereka merupakan malaikat kecil. Tetapi dari beberapa pakar Kesehatan terlebih khusus terhadap Kesehatan Mental memberikan beberapa informasi bagaimana cara mengenali bayi dengan indikasi dini yang dapat dijadikan sebagai petunjuk gejala Bayi Autis;
• tidak berceloteh, menunjuk, atau melakukan bahasa isyarat pada masa usia 1 tahun
• tidak dapat bicara satu katapun sampai dengan masa usia 7 bulan
• tidak dapat mengkombinasikan 2 kata dalam masa usia 2 tahun
• tidak menanggapi bila namanya dipanggil
• tidak bisa berkomunikasi dan beradaptasi
• selalu menghindari kontak mata
• tidak mengetahui cara menggunakan mainan anak-anak
• menyusun mainan atau objek lainnya dalam satu susunan secara berlebihan
• terpaku hanya pada satu mainan atau objek
• tidak pernah tersenyum
• terkadang melakukan tindakan merusak
Sumber : www.ibudananak.com
Bagaimana Mendiagnosis Autisme??
Menegakkan diagnosis autisme memang tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Diagnosa yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perlilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autism yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.
Karena karakteristik dari penyandang autisme ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme.
Dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Kadang kadang dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.
Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan.
Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autisme dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat.
Cara Mendeteksi Dini Gejala Autisme
Untuk menentukan seorang anak Autisme/bukan, tidaklah mudah, perlu tes-tes tertentu juga pengamatan yang teliti, tidak semua anak hiperaktif menderita Autisme, gejala autis pun tidak semuanya Hiperaktif.
Menurut ICD 10/DSM IV seorang anak mengalami autis bi ditemukan kelainan pada perilaku, komunikasi interaksi sosial ditambah dengan kelainan sensorik tertentu. Autisme banyak diderita anak laki-laki dari pada anak perempuan. Biasanya kelainan ini timbul saat anak berusia 2-4 thn, ada yang dari awal sudah timbul gejala autis tapi ada juga seorang anak yang mula-mula normal lalu saat umur 2-4 thn lalu drop tiba-tiba, dan muncul gejala autis. Penyeba autis sampai saat ini belum diketahui. Infeksi TORCH (Toxoplasm Rubella, Cito Megalovirus dan Herpes Zoster ) salah satu penyebab infeksi masa kehamilan dan biasanya menyebabkan kelainan pac otak yang berat. Yang perlu diketahui masyarakat awam bahwa Autis bisa disembuhkan asal rajin dan telaten mengawasi anak tersebu Adapun cara mendeteksi dininya dengan cara mengamati anak:
Tahun Pertama
Ada sejumlah kemampuan utama yang umumnya dicapai anak anak dalam usia setahun. Antara lain: berdiri dengan bantuan orangtua merangkak, mengucapka sebuah kata sederhana, menggerakkan tangan "dah-dah" (selamat tinggal), tepuk tangan atau gerak sederhana lainnya. Jika anak tidak dapat melakukan kemampuan ini, tidak berarti itu gejala autisme. Ia dapat saja mencapai kemampuan itu nanti. Namun tak ada salahnya untu waspada dan segera periksakan jika anak tak mencapai satupu kemampuan umum diatas.
Tahun Kedua
Gejala autisme terlihat lebih jelas jika anak tidak tertarik pada ana atau orang lain, jarang menatap atau tidak terjadi kontak mata tidak menunjuk atau melihat pada obyek yang diinginkan, tak dapst mengucapkan dua patah kata, kehilangan kata-kata yang sebelumnya ia kuasai, mengulang-ulang gerakan seperti menggoyangkan tanga atau mengayunkan tubuh kedepan-kebelakang, tidak bermain atau berpura-pura menjadi sesuatu, sering berjalan berjinjit.
Tahun Ketiga-Kelima
Gejala autisme setelah tahun kedua, semua yang terjadi pada tahun sebelumnya diatas dengan tambahan: terobsesi oleh suatu objek tertentu seperti mainan atau gam sangat tertarik dengan suatu rutinitas, susunan atau keteraturan benda, sangat marah jika keteraturan atau susunan benda terganggu, sensitive terhadap suara keras yang tidak mengganggu anak lainnya, sensitive terhadap sentuhan orang lain seperti tak suka dipeluk.
Sumber : http://www.rsudulin.com
Terapi Anak Autis, Lakukan Sedini Mungkin…
Banyak orang yang menyebut gangguan autis tidak dapat disembuhkan dan hanya bisa disembuhkan sedikit lewat berbagai terapi. Namun terapi yang dilakukan sedini mungkin, yakni saat anak berusia 18 bulan, ternyata menunjukkan perkembangan yang pesat. Bahkan, pada anak autis ringan, tingkat kecerdasannya bisa sama dengan anak normal.
Mencurigai adanya gejala autisme memang tidak mudah. Untuk bisa melakukan diagnosa yang tepat tentu dibutuhkan ketajaman dan pengalaman klinis. Namun para ahli menyarankan agar orangtua tidak mengabaikan setiap gejala austis yang muncul pada anak.
Dalam sebuah studi yang dilakukan pada 48 anak di Amerika Serikat menunjukkan, terapi perilaku yang diterima anak saat berusia 18 bulan selama 2 tahun menunjukkan perkembangan yang pesat. Anak-anak berusia 18-30 bulan tersebut secara acak menerima terapi "Early Start Denver" dan sisanya menerima terapi yang kurang komperhensif.
Terapi yang disebut Early Start Denver itu difokuskan untuk mengembangkan kemampuan interaksi sosial dan komunikasi anak. Misalnya saja, terapis atau orangtua secara berulang mendekatkan mainan di dekat wajah anak untuk merangsang anak melakukan kontak mata. Atau, orangtua memberi hadiah bila anak menggunakan kata saat meminta mainan.
Anak-anak tersebut melakukan terapi selama 4 jam, lima hari dalam seminggu, ditambah minimal 5 jam terapi pada akhir pekan dari orangtuanya. Setelah dua tahun, tingkat kecerdasan (IQ) anak-anak itu rata-rata naik 18 poin dibandingkan dengan anak dari kelompok terapi lain.
Sumber: http://kesehatan.kompas.com
Penanganan Tepat pada Anak Autisme
Kunci sukses untuk membantu para orangtua atau keluarga agar penderita autis dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, maka seluruh anggota keluarga harus turut langsung membantu para penderita ini berusaha melakukan hal itu.
Menurut dr Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K), pakar autis indonesia, beberapa keganjalan yang sering dilakukan oleh penderita autis dapat dibantu dengan melakukan empat macam terapi. Saat ini sudah terdapat beberapa terapi bagi penderita autis, baik itu terapi perilaku - ABA, terapi sensori integrasi, terapi okupasi, terapi wicara maupun terapi tambahan seperti terapi musik, AIT, Dolphin Assisted Therapy.
Terapi perilaku - ABA merupakan terapi gentak untuk memperbaiki perilaku anak autis yang sering menyimpang. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah bersuara keras saat memberikan perintah pada anak. Kalau anak tidak mau melakukan apa yang diperintahkan, maka harus mengagetkan mereka.
Terapi sensori integrasi, sambungnya, khusus ditujukan pada fungsi biologis otak. Sehingga otak melakukan segala sesuatu dengan benar. Sementara itu, terapi okupasi dilakukan untuk memperbaiki aktivitas penderita autis. Selain itu ada juga terapi wicara yang dilakukan untuk membantu penderita autis yang mengalami gangguan bicara agar bisa berbicara kembali.
Ternyata agar anak autis dapat kembali di tengah-tengah keluarganya, tak hanya langkah terapi saja yang dilakukan. Pemberian nutrisi tepat bagi penyandang autis juga harus diperhatikan. Karena pada beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang mengalami autisme ternyata juga alergi terhadap makanan tertentu.
Menurut ahli gizi Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief, AMG, StiP, orang tua perlu memerhatikan beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari seperti makanan yang mengandung gluten (tepung terigu), permen, sirip, dan makanan siap saji yang mengandung pengawet, serta bahan tambahan makanan.
"Penderita autis umumnya mengalami masalah pencernaan terutama makanan yang mengandung casein (protein susu) dan gluten (protein tepung).
Selain asupan makanan yang tepat, suplementasi pun perlu diberikan pada pasien autis mengingat adanya gangguan metabolisme penyerapan zat gizi (lactose intolerance) dan gangguan cerna yang diakibatkan karena konsumsi antibiotik dengan pemberian sinbiotic (kombinasi Sun Hope probiotik dan enzymes sebagai prebiotik).
Meski suplemen penting diberikan pada penderita autis, hal yang paling tepat dilakukan adalah memberikan pengaturan nutrisi yang tepat. Ketika makanan tidak tepat masuk ke dalam tubuh, maka akan masuk ke usus halus dan tidak tercerna dengan baik. Akhirnya makanan tersebut keluar melalui urin, karena material tersebut sifatnya toxic (racun) sehingga terserap ke otak. Hal tersebut menyebabkan anak autis semakin hiperaktif.
Tak hanya itu saja, untuk membantu mengurangi gejala hiperaktif dan membantu meningkatkan konsentrasi dan perbaikan perilaku, suplementasi omega 3 yang terdapat pada Sun Hope Deep Sea dapat dijadikan alternatif.
Sumber : http://lifestyle.okezone.com
Terapi Musik untuk Bangkitkan Konsentrasi Anak Autis
Salah satu metode untuk menangani anak autis yakni memberikan pelajaran musik untuk menggugah konsentrasi mereka. Ada dua tahapan pembelajaran musik anak autis, yakni tahap dasar dan lanjutan.
Pada tahap dasar, anak autis cukup diberikan pengenalan nada saja, misalnya suara ketukan maupun bunyi-bunyian alat musik seperti drum. Setelah mengenal nada dasar, kemudian siswa masuk tahap lanjutan dengan diberikan musik yang lebih beralur seperti piano. Untuk sampai pada tahap lanjutan, tergantung keseriusan serta daya tangkap masing-masing anak autis.
Selain itu, peranan orangtua juga menjadi faktor penentu keberhasilan anak autis menjalani hidup, baik dari pola kehidupan sehari-hari siswa maupun ritme belajar yang dilakukan kepada anak autis di rumah. "Jam tidur juga harus dijaga. Perhatian orangtua dituntut bisa mengendalikan pola hidup anaknya. Kalau tidak, konsentrasinya bisa bubar.
Dengan belajar musik, anak autis bisa menemukan konsentrasinya. Nada dan ketukan musik yang keluar dari piano dan drum mampu menembus arah pikirannya.
Seperti yang dilakukan Milka Rizki Bramasto (6), salah seorang siswa Gita Nada Persada. Dia begitu tenang saat jemarinya menari di atas tuts piano meski suaranya tidak beraturan. Maklum, Milka hanya bisa memainkan tiga tangga nada piano, yakni do, re, dan mi. Namun, dengan bermain musik, dia sedikit bisa mengatur konsentrasi yang ada di pikirannya. Ketukan nada yang keluar dari piano mampu menggugah daya ingat serta fokus seorang anak yang menderita autis. Sesekali, Milka bertingkah berlebihan dengan memukul badan piano. Reaksi yang berlebihan seperti itu sering dilakukan anak autis. Apa yang mereka inginkan juga harus segera terwujud.
Sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2008/01/21/terapi-musik-untuk-bangkitkan-konsentrasi-anak-autis.
-Fokus kita disini nanti adalah Gangguan Autis (Autisme).
-Gangguan Asperger (Asperger’s disorder) ditunjukan dengan adanya deficit pada
Interaksi sosial dan perilaku stereotip. Gangguan Asperger tidak melibatkan deficit yang signifikan pada kemampuan bahasa dan kognitif (APA,2000;Szatmari dkk 2000).
Type gangguan perkembangan pervasif yang lebih jarang muncul, mencakup
- Gangguan Rett (Rett’s disorder), gangguan yang dilaporkan hanya terjadi pada wanita
- Gangguan Disintegratif masa kanak-kanak (childhood disintegrative disorder), kondisi yang jarang ada, biasanya muncul pada laki-laki.
Sumber : http://www.masbow.com/2009/11/gangguan-perkembangan-pervasif.html
Apa Itu Autisme??
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autisme (autism), atau gangguan austistik, adalah salah satu gangguan terparah di masa kanak-kanak. Bersifat kronis dan berlangsung sepanjang hidup.
Autisme berasal dari bahasa Yunani, autos yang berarti “self.” Pertama kali digunakan tahun 1906 oleh psikiater Swiss, Eugen Bleuler, untuk merujuk pada gaya berpikir yang aneh pada penderita skizofrenia. Cara berfikir autistic adalah kecenderungan untuk memandang diri sendiri sebagai pusat dari dunia, percaya bahwa kejadian-kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri. Seolah-olah mereka hidup dalam dunia mereka sendiri, menutup diri dari setiap masukan dunia luar.
Kata autisme berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pada umumnya penderita autisme mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).
Pemakaian istilah autisme kepada penderita diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penderita yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.
Sumber : http://www.masbow.com/2009/11/gangguan-perkembangan-pervasif.html
Angka Kejadian Kasus Autisme…
Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak, serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik.
Jumlah anak yang terkena autisma makin bertambah. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autisme per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia.Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autisma meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autisma. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.
Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belunm diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakanjumlah anak austime dapat mencapai 150 --200 ribu orang.
Penelitian Deb & Prasad, 1994 di Skotlandia menemukan bahwa dikalangan anak-anak dengan gangguan belahjar prevalensi autisma mencapai 14,3% dan di anatara usia sekolah prevalensinya 9 per 10.000. Penderita di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan dan angka kejadian dari tahun ke tahun cenderung terus meningkat.
Apa Saja Gejala-Gejala Dari Autisme??
Anak yang menderita autis sebenarnya dapat diketahui sejak usia dini. Karena umumnya gangguan ini muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Hanya kebanyakan orangtua kurang aware dengan gejala yang timbul pada anaknya hingga usia empat tahun.
Padahal pada usia tersebut, anak sudah larut dengan dunianya sendiri sehingga tidak bisa berkomunikasi dan berinterkasi dengan teman-teman dan lingkungannya. Ketika kondisi tersebut terlambat diketahui, maka langkah utama yang harus dilakukan ialah memfokuskan kelebihan anak di bidang tertentu yang dikuasainya.
• Gangguan dalam komunikasi verbal dan nonverbal
Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara
Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata – kata dalam konteks yang sesuai
Kadang bicara monoton seperti robot
Mimik muka datar
Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat.
• Gangguan dalam interksi social
Menolak atau menghindar untuk bertatap muka
Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya
Bila didekati untuk bermain justru menjauh
Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun.
• Gangguan dalam persaan dan emosi
Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan di datangi dan dipukulnya
Tertawa – tawa sendiri , menangis atau marah – marah tanpa sebab yang nyata
Sering mengamuk tidak terkendali (temper tantrum) , terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif.
Penyebab Autisme…
Penyebab autisme belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autisme disebabkan karena terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autisme.
Sepuluh tahun yang lalu penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada factor psikologis saja.
Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks.
Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak .
Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak , antara lain ; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, gangguan imunologis, gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus.
Autis Pada Bayi…
Kebanyakan orangtua mengetahui gejala-gejala karakter yang berbeda terhadap anak-anaknya pada usia anak 1 sampai 3 tahun. Pada kasus-kasus tertentu ada beberapa orangtua yang dapat mengenai gejala tersebut lebih dini pada masa pertumbuhan bayi/anak.
Gejala-gejala seperti misalnya bayi tidak menangis bila ditinggal sendirian, menunjukkan kegelisahan yang sangat bila berhadapan dengan orang asing bagi dirinya, berceloteh sendiran, menggunakan bahasa isyarat seperti misalnya bertepuk tangan, menunjukkan tangan, sangat menikmati permainan dan asyik bermain sendirian—semua tanda yang menyerupai karakteristik bayi.
Tidak ada satu orangtuapun yang dapat mengenali bayi mereka akan terjadinya gejala Autis pada bayi mereka, karena bagi para orangtua bayi mereka merupakan malaikat kecil. Tetapi dari beberapa pakar Kesehatan terlebih khusus terhadap Kesehatan Mental memberikan beberapa informasi bagaimana cara mengenali bayi dengan indikasi dini yang dapat dijadikan sebagai petunjuk gejala Bayi Autis;
• tidak berceloteh, menunjuk, atau melakukan bahasa isyarat pada masa usia 1 tahun
• tidak dapat bicara satu katapun sampai dengan masa usia 7 bulan
• tidak dapat mengkombinasikan 2 kata dalam masa usia 2 tahun
• tidak menanggapi bila namanya dipanggil
• tidak bisa berkomunikasi dan beradaptasi
• selalu menghindari kontak mata
• tidak mengetahui cara menggunakan mainan anak-anak
• menyusun mainan atau objek lainnya dalam satu susunan secara berlebihan
• terpaku hanya pada satu mainan atau objek
• tidak pernah tersenyum
• terkadang melakukan tindakan merusak
Sumber : www.ibudananak.com
Bagaimana Mendiagnosis Autisme??
Menegakkan diagnosis autisme memang tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Diagnosa yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perlilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autism yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.
Karena karakteristik dari penyandang autisme ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme.
Dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Kadang kadang dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.
Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan.
Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autisme dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat.
Cara Mendeteksi Dini Gejala Autisme
Untuk menentukan seorang anak Autisme/bukan, tidaklah mudah, perlu tes-tes tertentu juga pengamatan yang teliti, tidak semua anak hiperaktif menderita Autisme, gejala autis pun tidak semuanya Hiperaktif.
Menurut ICD 10/DSM IV seorang anak mengalami autis bi ditemukan kelainan pada perilaku, komunikasi interaksi sosial ditambah dengan kelainan sensorik tertentu. Autisme banyak diderita anak laki-laki dari pada anak perempuan. Biasanya kelainan ini timbul saat anak berusia 2-4 thn, ada yang dari awal sudah timbul gejala autis tapi ada juga seorang anak yang mula-mula normal lalu saat umur 2-4 thn lalu drop tiba-tiba, dan muncul gejala autis. Penyeba autis sampai saat ini belum diketahui. Infeksi TORCH (Toxoplasm Rubella, Cito Megalovirus dan Herpes Zoster ) salah satu penyebab infeksi masa kehamilan dan biasanya menyebabkan kelainan pac otak yang berat. Yang perlu diketahui masyarakat awam bahwa Autis bisa disembuhkan asal rajin dan telaten mengawasi anak tersebu Adapun cara mendeteksi dininya dengan cara mengamati anak:
Tahun Pertama
Ada sejumlah kemampuan utama yang umumnya dicapai anak anak dalam usia setahun. Antara lain: berdiri dengan bantuan orangtua merangkak, mengucapka sebuah kata sederhana, menggerakkan tangan "dah-dah" (selamat tinggal), tepuk tangan atau gerak sederhana lainnya. Jika anak tidak dapat melakukan kemampuan ini, tidak berarti itu gejala autisme. Ia dapat saja mencapai kemampuan itu nanti. Namun tak ada salahnya untu waspada dan segera periksakan jika anak tak mencapai satupu kemampuan umum diatas.
Tahun Kedua
Gejala autisme terlihat lebih jelas jika anak tidak tertarik pada ana atau orang lain, jarang menatap atau tidak terjadi kontak mata tidak menunjuk atau melihat pada obyek yang diinginkan, tak dapst mengucapkan dua patah kata, kehilangan kata-kata yang sebelumnya ia kuasai, mengulang-ulang gerakan seperti menggoyangkan tanga atau mengayunkan tubuh kedepan-kebelakang, tidak bermain atau berpura-pura menjadi sesuatu, sering berjalan berjinjit.
Tahun Ketiga-Kelima
Gejala autisme setelah tahun kedua, semua yang terjadi pada tahun sebelumnya diatas dengan tambahan: terobsesi oleh suatu objek tertentu seperti mainan atau gam sangat tertarik dengan suatu rutinitas, susunan atau keteraturan benda, sangat marah jika keteraturan atau susunan benda terganggu, sensitive terhadap suara keras yang tidak mengganggu anak lainnya, sensitive terhadap sentuhan orang lain seperti tak suka dipeluk.
Sumber : http://www.rsudulin.com
Terapi Anak Autis, Lakukan Sedini Mungkin…
Banyak orang yang menyebut gangguan autis tidak dapat disembuhkan dan hanya bisa disembuhkan sedikit lewat berbagai terapi. Namun terapi yang dilakukan sedini mungkin, yakni saat anak berusia 18 bulan, ternyata menunjukkan perkembangan yang pesat. Bahkan, pada anak autis ringan, tingkat kecerdasannya bisa sama dengan anak normal.
Mencurigai adanya gejala autisme memang tidak mudah. Untuk bisa melakukan diagnosa yang tepat tentu dibutuhkan ketajaman dan pengalaman klinis. Namun para ahli menyarankan agar orangtua tidak mengabaikan setiap gejala austis yang muncul pada anak.
Dalam sebuah studi yang dilakukan pada 48 anak di Amerika Serikat menunjukkan, terapi perilaku yang diterima anak saat berusia 18 bulan selama 2 tahun menunjukkan perkembangan yang pesat. Anak-anak berusia 18-30 bulan tersebut secara acak menerima terapi "Early Start Denver" dan sisanya menerima terapi yang kurang komperhensif.
Terapi yang disebut Early Start Denver itu difokuskan untuk mengembangkan kemampuan interaksi sosial dan komunikasi anak. Misalnya saja, terapis atau orangtua secara berulang mendekatkan mainan di dekat wajah anak untuk merangsang anak melakukan kontak mata. Atau, orangtua memberi hadiah bila anak menggunakan kata saat meminta mainan.
Anak-anak tersebut melakukan terapi selama 4 jam, lima hari dalam seminggu, ditambah minimal 5 jam terapi pada akhir pekan dari orangtuanya. Setelah dua tahun, tingkat kecerdasan (IQ) anak-anak itu rata-rata naik 18 poin dibandingkan dengan anak dari kelompok terapi lain.
Sumber: http://kesehatan.kompas.com
Penanganan Tepat pada Anak Autisme
Kunci sukses untuk membantu para orangtua atau keluarga agar penderita autis dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, maka seluruh anggota keluarga harus turut langsung membantu para penderita ini berusaha melakukan hal itu.
Menurut dr Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K), pakar autis indonesia, beberapa keganjalan yang sering dilakukan oleh penderita autis dapat dibantu dengan melakukan empat macam terapi. Saat ini sudah terdapat beberapa terapi bagi penderita autis, baik itu terapi perilaku - ABA, terapi sensori integrasi, terapi okupasi, terapi wicara maupun terapi tambahan seperti terapi musik, AIT, Dolphin Assisted Therapy.
Terapi perilaku - ABA merupakan terapi gentak untuk memperbaiki perilaku anak autis yang sering menyimpang. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah bersuara keras saat memberikan perintah pada anak. Kalau anak tidak mau melakukan apa yang diperintahkan, maka harus mengagetkan mereka.
Terapi sensori integrasi, sambungnya, khusus ditujukan pada fungsi biologis otak. Sehingga otak melakukan segala sesuatu dengan benar. Sementara itu, terapi okupasi dilakukan untuk memperbaiki aktivitas penderita autis. Selain itu ada juga terapi wicara yang dilakukan untuk membantu penderita autis yang mengalami gangguan bicara agar bisa berbicara kembali.
Ternyata agar anak autis dapat kembali di tengah-tengah keluarganya, tak hanya langkah terapi saja yang dilakukan. Pemberian nutrisi tepat bagi penyandang autis juga harus diperhatikan. Karena pada beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang mengalami autisme ternyata juga alergi terhadap makanan tertentu.
Menurut ahli gizi Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief, AMG, StiP, orang tua perlu memerhatikan beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari seperti makanan yang mengandung gluten (tepung terigu), permen, sirip, dan makanan siap saji yang mengandung pengawet, serta bahan tambahan makanan.
"Penderita autis umumnya mengalami masalah pencernaan terutama makanan yang mengandung casein (protein susu) dan gluten (protein tepung).
Selain asupan makanan yang tepat, suplementasi pun perlu diberikan pada pasien autis mengingat adanya gangguan metabolisme penyerapan zat gizi (lactose intolerance) dan gangguan cerna yang diakibatkan karena konsumsi antibiotik dengan pemberian sinbiotic (kombinasi Sun Hope probiotik dan enzymes sebagai prebiotik).
Meski suplemen penting diberikan pada penderita autis, hal yang paling tepat dilakukan adalah memberikan pengaturan nutrisi yang tepat. Ketika makanan tidak tepat masuk ke dalam tubuh, maka akan masuk ke usus halus dan tidak tercerna dengan baik. Akhirnya makanan tersebut keluar melalui urin, karena material tersebut sifatnya toxic (racun) sehingga terserap ke otak. Hal tersebut menyebabkan anak autis semakin hiperaktif.
Tak hanya itu saja, untuk membantu mengurangi gejala hiperaktif dan membantu meningkatkan konsentrasi dan perbaikan perilaku, suplementasi omega 3 yang terdapat pada Sun Hope Deep Sea dapat dijadikan alternatif.
Sumber : http://lifestyle.okezone.com
Terapi Musik untuk Bangkitkan Konsentrasi Anak Autis
Salah satu metode untuk menangani anak autis yakni memberikan pelajaran musik untuk menggugah konsentrasi mereka. Ada dua tahapan pembelajaran musik anak autis, yakni tahap dasar dan lanjutan.
Pada tahap dasar, anak autis cukup diberikan pengenalan nada saja, misalnya suara ketukan maupun bunyi-bunyian alat musik seperti drum. Setelah mengenal nada dasar, kemudian siswa masuk tahap lanjutan dengan diberikan musik yang lebih beralur seperti piano. Untuk sampai pada tahap lanjutan, tergantung keseriusan serta daya tangkap masing-masing anak autis.
Selain itu, peranan orangtua juga menjadi faktor penentu keberhasilan anak autis menjalani hidup, baik dari pola kehidupan sehari-hari siswa maupun ritme belajar yang dilakukan kepada anak autis di rumah. "Jam tidur juga harus dijaga. Perhatian orangtua dituntut bisa mengendalikan pola hidup anaknya. Kalau tidak, konsentrasinya bisa bubar.
Dengan belajar musik, anak autis bisa menemukan konsentrasinya. Nada dan ketukan musik yang keluar dari piano dan drum mampu menembus arah pikirannya.
Seperti yang dilakukan Milka Rizki Bramasto (6), salah seorang siswa Gita Nada Persada. Dia begitu tenang saat jemarinya menari di atas tuts piano meski suaranya tidak beraturan. Maklum, Milka hanya bisa memainkan tiga tangga nada piano, yakni do, re, dan mi. Namun, dengan bermain musik, dia sedikit bisa mengatur konsentrasi yang ada di pikirannya. Ketukan nada yang keluar dari piano mampu menggugah daya ingat serta fokus seorang anak yang menderita autis. Sesekali, Milka bertingkah berlebihan dengan memukul badan piano. Reaksi yang berlebihan seperti itu sering dilakukan anak autis. Apa yang mereka inginkan juga harus segera terwujud.
Sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2008/01/21/terapi-musik-untuk-bangkitkan-konsentrasi-anak-autis.
Sabtu, 20 Februari 2010
AUTISME
A. Pengertian Autisme
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:
• Interaksi sosial,
• Komunikasi (bahasa dan bicara),
• Perilaku-emosi,
• Pola bermain,
• Gangguan sensorik dan motorik
• Perkembangan terlambat atau tidak normal.
Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.
Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:
1. Autistic Disorder (Autism). Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
2. Asperger’s Syndrome. Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
4. Rett’s Syndrome. Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD). Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
B. Gejala Autisme
Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangsangan dari kelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.
Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
1. Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4. Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa diantaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.
C. Terapi Bagi Individu dengan Autisme
Bila ada pertanyaan mengenai terapi apa yang efektif? Maka jawaban atas pertanyaan ini sangat kompleks, bahkan para orang tua dari anak-anak dengan autisme pun merasa bingung ketika dihadapkan dengan banyaknya treatment dan proses pendidikan yang ditawarkan bagi anak mereka. Beberapa jenis terapi bersifat tradisional dan telah teruji dari waktu ke waktu sementara terapi lainnya mungkin baru saja muncul. Tidak seperti gangguan perkembangan lainnya, tidak banyak petunjuk treatment yang telah dipublikasikan apalagi prosedur yang standar dalam menangani autisme. Bagaimanapun juga para ahli sependapat bahwa terapi harus dimulai sejak awal dan harus diarahkan pada hambatan maupun keterlambatan yang secara umum dimiliki oleh setiap anak autis, misalnya; komunikasi dan persoalan-persolan perilaku. Treatment yang komprehensif umumnya meliputi; Terapi Wicara (Speech Therapy), Okupasi Terapi (Occupational Therapy) dan Applied Behavior Analisis (ABA) untuk mengubah serta memodifikasi perilaku.
Berikut ini adalah suatu uraian sederhana dari berbagai literatur yang ada dan ringkasan penjelasan yang tidak menyeluruh dari beberapa treatment yang diakui saat ini. Menjadi keharusan bagi orang tua untuk mencari tahu dan mengenali treatment yang dipilihnya langsung kepada orang-orang yang profesional dibidangnya. Sebagian dari teknik ini adalah program menyeluruh, sedang yang lain dirancang menuju target tertentu yang menjadi hambatan atau kesulitan para penyandangnya.
• Educational Treatment, meliputi tetapi tidak terbatas pada: Applied Behavior Analysis (ABA) yang prinsip-prinsipnya digunakan dalam penelitian Lovaas sehingga sering disamakan dengan Discrete Trial Training atau Intervensi Perilaku Intensif.
• Pendekatan developmental yang dikaitkan dengan pendidikan yang dikenal sebagai Floortime.
• TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication – Handicapped Children).
• Biological Treatment, meliputi tetapi tidak terbatas pada: diet, pemberian vitamin dan pemberian obat-obatan untuk mengurangi perilaku-perilaku tertentu (agresivitas, hiperaktif, melukai diri sendiri, dsb.).
• Speech – Language Therapy (Terapi Wicara), meliputi tetapi tidak terbatas pada usaha penanganan gangguan asosiasi dan gangguan proses auditory/pendengaran.
• Komunikasi, peningkatan kemampuan komunikasi, seperti PECS (Picture Exchange Communication System), bahasa isyarat, strategi visual menggunakan gambar dalam berkomunikasi dan pendukung-pendukung komunikasi lainnya.
• Pelayanan Autisme Intensif, meliputi kerja team dari berbagai disiplin ilmu yang memberikan intervensi baik di rumah, sekolah maupun lngkungan sosial lainnya.
• Terapi yang bersifat Sensoris, meliputi tetapi tidak terbatas pada Occupational Therapy (OT), Sensory Integration Therapy (SI) dan Auditory Integration Training (AIT).
Dengan adanya berbagai jenis terapi yang dapat dipilih oleh orang tua, maka sangat penting bagi mereka untuk memilih salah satu jenis terapi yang dapat meningkatkan fungsionalitas anak dan mengurangi gangguan serta hambatan autisme. Sangat disayangkan masih minim data ilmiah yang mampu mendukung berbagai jenis terapi yang dapat dipilih orang tua di Indonesia saat ini. Fakta menyebutkan bahwa sangat sulit membuat suatu penelitian mengenai autisme. Sangat banyak variabel-variabel yang dimiliki anak, dari tingkat keparahan gangguannya hingga lingkungan sekitarnya dan belum lagi etika yang ada didalamnya untuk membuat suatu penelitian itu sungguh-sungguh terkontrol. Sangat tidak mungkin mengkontrol semua variabel yang ada sehingga data yang dihasilkan dari penelitian-penelitian sebelumnya mungkin secara statistik tidak akurat.
Tidak ada satupun jenis terapi yang berhasil bagi semua anak. Terapi harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, berdasarkan pada potensinya, kekurangannya dan tentu saja sesuai dengan minat anak sendiri. Terapi harus dilakukan secara multidisiplin ilmu, misalnya menggunakan; okupasi terapi, terapi wicara dan terapi perilaku sebagai basisnya. Tenaga ahli yang menangani anak harus mampu mengarahkan pilihan-pilihan anda terhadap berbagai jenis terapi yang ada saat ini. Tidak ada jaminan apakah terapi yang dipilih oleh orang tua maupun keluarga sungguh-sungguh akan berjalan efektif. Namun demikian, tentukan salah satu jenis terapi dan laksanakan secara konsisten, bila tidak terlihat perubahan atau kemajuan yang nyata selama 3 bulan dapat melakukan perubahan terapi. Bimbingan dan arahan yang diberikan harus dilaksanakan oleh orang tua secara konsisten. Bila terlihat kemajuan yang signifikan selama 3 bulan maka bentuk intervensi lainnya dapat ditambahkan. Tetap bersikap obyektif dan tanyakan kepada para ahli bila terjadi perubahan-perubahan perilaku lainnya.
SUMBER : WIKIPEDIA
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:
• Interaksi sosial,
• Komunikasi (bahasa dan bicara),
• Perilaku-emosi,
• Pola bermain,
• Gangguan sensorik dan motorik
• Perkembangan terlambat atau tidak normal.
Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.
Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:
1. Autistic Disorder (Autism). Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
2. Asperger’s Syndrome. Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3. Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
4. Rett’s Syndrome. Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD). Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
B. Gejala Autisme
Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangsangan dari kelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.
Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
1. Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4. Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa diantaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.
C. Terapi Bagi Individu dengan Autisme
Bila ada pertanyaan mengenai terapi apa yang efektif? Maka jawaban atas pertanyaan ini sangat kompleks, bahkan para orang tua dari anak-anak dengan autisme pun merasa bingung ketika dihadapkan dengan banyaknya treatment dan proses pendidikan yang ditawarkan bagi anak mereka. Beberapa jenis terapi bersifat tradisional dan telah teruji dari waktu ke waktu sementara terapi lainnya mungkin baru saja muncul. Tidak seperti gangguan perkembangan lainnya, tidak banyak petunjuk treatment yang telah dipublikasikan apalagi prosedur yang standar dalam menangani autisme. Bagaimanapun juga para ahli sependapat bahwa terapi harus dimulai sejak awal dan harus diarahkan pada hambatan maupun keterlambatan yang secara umum dimiliki oleh setiap anak autis, misalnya; komunikasi dan persoalan-persolan perilaku. Treatment yang komprehensif umumnya meliputi; Terapi Wicara (Speech Therapy), Okupasi Terapi (Occupational Therapy) dan Applied Behavior Analisis (ABA) untuk mengubah serta memodifikasi perilaku.
Berikut ini adalah suatu uraian sederhana dari berbagai literatur yang ada dan ringkasan penjelasan yang tidak menyeluruh dari beberapa treatment yang diakui saat ini. Menjadi keharusan bagi orang tua untuk mencari tahu dan mengenali treatment yang dipilihnya langsung kepada orang-orang yang profesional dibidangnya. Sebagian dari teknik ini adalah program menyeluruh, sedang yang lain dirancang menuju target tertentu yang menjadi hambatan atau kesulitan para penyandangnya.
• Educational Treatment, meliputi tetapi tidak terbatas pada: Applied Behavior Analysis (ABA) yang prinsip-prinsipnya digunakan dalam penelitian Lovaas sehingga sering disamakan dengan Discrete Trial Training atau Intervensi Perilaku Intensif.
• Pendekatan developmental yang dikaitkan dengan pendidikan yang dikenal sebagai Floortime.
• TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication – Handicapped Children).
• Biological Treatment, meliputi tetapi tidak terbatas pada: diet, pemberian vitamin dan pemberian obat-obatan untuk mengurangi perilaku-perilaku tertentu (agresivitas, hiperaktif, melukai diri sendiri, dsb.).
• Speech – Language Therapy (Terapi Wicara), meliputi tetapi tidak terbatas pada usaha penanganan gangguan asosiasi dan gangguan proses auditory/pendengaran.
• Komunikasi, peningkatan kemampuan komunikasi, seperti PECS (Picture Exchange Communication System), bahasa isyarat, strategi visual menggunakan gambar dalam berkomunikasi dan pendukung-pendukung komunikasi lainnya.
• Pelayanan Autisme Intensif, meliputi kerja team dari berbagai disiplin ilmu yang memberikan intervensi baik di rumah, sekolah maupun lngkungan sosial lainnya.
• Terapi yang bersifat Sensoris, meliputi tetapi tidak terbatas pada Occupational Therapy (OT), Sensory Integration Therapy (SI) dan Auditory Integration Training (AIT).
Dengan adanya berbagai jenis terapi yang dapat dipilih oleh orang tua, maka sangat penting bagi mereka untuk memilih salah satu jenis terapi yang dapat meningkatkan fungsionalitas anak dan mengurangi gangguan serta hambatan autisme. Sangat disayangkan masih minim data ilmiah yang mampu mendukung berbagai jenis terapi yang dapat dipilih orang tua di Indonesia saat ini. Fakta menyebutkan bahwa sangat sulit membuat suatu penelitian mengenai autisme. Sangat banyak variabel-variabel yang dimiliki anak, dari tingkat keparahan gangguannya hingga lingkungan sekitarnya dan belum lagi etika yang ada didalamnya untuk membuat suatu penelitian itu sungguh-sungguh terkontrol. Sangat tidak mungkin mengkontrol semua variabel yang ada sehingga data yang dihasilkan dari penelitian-penelitian sebelumnya mungkin secara statistik tidak akurat.
Tidak ada satupun jenis terapi yang berhasil bagi semua anak. Terapi harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, berdasarkan pada potensinya, kekurangannya dan tentu saja sesuai dengan minat anak sendiri. Terapi harus dilakukan secara multidisiplin ilmu, misalnya menggunakan; okupasi terapi, terapi wicara dan terapi perilaku sebagai basisnya. Tenaga ahli yang menangani anak harus mampu mengarahkan pilihan-pilihan anda terhadap berbagai jenis terapi yang ada saat ini. Tidak ada jaminan apakah terapi yang dipilih oleh orang tua maupun keluarga sungguh-sungguh akan berjalan efektif. Namun demikian, tentukan salah satu jenis terapi dan laksanakan secara konsisten, bila tidak terlihat perubahan atau kemajuan yang nyata selama 3 bulan dapat melakukan perubahan terapi. Bimbingan dan arahan yang diberikan harus dilaksanakan oleh orang tua secara konsisten. Bila terlihat kemajuan yang signifikan selama 3 bulan maka bentuk intervensi lainnya dapat ditambahkan. Tetap bersikap obyektif dan tanyakan kepada para ahli bila terjadi perubahan-perubahan perilaku lainnya.
SUMBER : WIKIPEDIA
Minggu, 27 Desember 2009
FENOMENA BUNUH DIRI
PENGUSAHA TERJUN DARI LANTAI 27
Seorang wanita pengusaha tekstil di Manggadua diduga nekat menghabisi nyawanya dengan melompat dari lantai 27 salah satu Apartemen di bilangan Jakarta Pusat, Selasa (15/12) pukul 15.00. Pengusaha itu bernama Ls (34).
Tubuh Ls jatuh di tengah lapangan tennis yang terletak di atap lantai tujuh apartemen. Benturan keras dengan lantai lapangan tennis membuat bagian belakang kepala wanita berkulit putih mulus itu pecah serta kedua tangan dan kakinya patah.
Aksi bunuh diri di apartemen ini adalah bunuh diri kelima dari gedung tinggi di Jakarta dalam dua bulan terakhir. Sebelumnya peristiwa serupa terjadi di Grand Indonesia, Senayan City, Manggadua Square, dan Apartemen Gading River View City.
Kapolsektro Gambir, Kompol Yossy Runtukahu, menuturkan bahwa diduga Ls meloncat dari balkon kamar apartemennya di lantai 27. “Sebelum dia loncat, ada salah seorang penghuni apartemen yang mendengar dia berbincang melalui ponsel. Dari nada bicaranya dia sedang marah-marah,” ujarnya.
Pada saat yang hampir bersamaan dengan kematian Ls, Putra, pegawai di tempat usaha wanita asal Sambas itu, dalam perjalanan ke apartemen tersebut untuk menemui majikannya.
Menurut Putra, dia datang ke apartemen atas permintaan sang majikan sekitar setengah jam sebelumnya melalui telepon. “Dia memanggil saya, katanya mau curhat. Katanya di sini (Jakarta) nggak ada tempat lagi buat curhat selain saya,’ ujar Putra di lokasi kejadian.
Dikatakan Kompol Yossy, pihaknya memperoleh informasi bahwa Lindasari baru bercerai dengan suaminya dan diduga mengalami depresi berat. Karena itu, polisi berupaya mencari sang mantan suami, juga mencari anak pengusaha tersebut.
-Pendapat Ahli Mengenai Fenomena Bunuh Diri Terjun dari Ketinggian-
Psikolog Universitas Indonesia (UI) Suhati Kurniawati mengatakan, bunuh diri dengan terjun bebas dari ketinggian yang semakin marak merupakan contagious violence (kekerasan yang menular). Melihat beberapa kasus bunuh diri dari ketinggian di Jakarta dalam dua bulan terakhir, besar kemungkinan para pelakunya memilki latar belakang yang sama, yakni mengalami depresi berat ataupun putus asa.
Di sisi lain, kata Suhati media massa “menularkan dan memberi contoh cara bunuh diri. Media mengilhami orang-orang yang depresi berat dan putus asa untuk melakukan hal yang sama.” ujarnya.
Orang yang mendapat tekanan hidup luar biasa, hingga depresi berat dan putus asa cenderung melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri. Ide untuk bunuh diri dengan cara simpel dan mudah, timbul saat dia melihat di media ada orang yang melakukannya dengan terjun bebas dari ketinggian.
Di luar itu, banyak bangunan tinggi di Jakarta bisa jadi turut mengilhami orang-orang yang putus asa itu untuk meniru aksi-aksi bunuh diri dari ketinggian. Dari data yang dipeoleh menyebutkan, saat ini di Jakarta ada sekitar 1.100 gedung tinggi (gedung dengan 7 tingkat atau lebih).
Ide untuk mati sudah muncul pada seseorang yang sudah berkali-kali mengalami tekanan hidup yang luar biasa bahkan sampai menimbulkan rasa putus asa yang sangat dalam. “Fenomena di kota besar saat ini, semua orang harus bisa survive untuk bertahan hidup. Bagi sebagian orang, ini tekanan yanag luar biasa,” ujar Suhati.
Disisi lain, banyak orang yang tak sadar sudah berada dalam tingkat depresi yang dalam. Menurut Suhati, agar penderita depresi atau orang yang mengalami putus asa bisa terbebas dari depresinya, dia mesti dibantu orang-orang di sekitarnya. “Orang yang depresi perlu pendampingan serius,” katanya.
Suhati mengatakan orang-orang harus jeli dan peka untuk melihat apakah ada anggota keluarga atau sahabatnya yang mengalami depresi ataupun mengalami rasa putus asa yang dalam. ‘kalau sudah kelihatan depresi, ajak dia bicara atau Bantu memecahkan masalah yang membuat dia depresi dan putus asa,” katanya.
Selain itu, ajak orang yang depresi dan putus asa itu melakukan sesuatu yang berguna. Orang depresi dan putus asa akan merasa tak berguna. Bila dia diajak melakukan sesuatu yang berguna maka tingkat depresi akan turun. Suhati juga mengatakan bahwa olahraga merupakan hal yang penting karena dapat memunculkan hormone endhorpin, yakni hormone yang membuat perasaan nyaman. Kalau sudah nyaman maka putus asanya bisa hilang.
Sumber : Warta Kota, Rabu, 16 Desember 2009
Seorang wanita pengusaha tekstil di Manggadua diduga nekat menghabisi nyawanya dengan melompat dari lantai 27 salah satu Apartemen di bilangan Jakarta Pusat, Selasa (15/12) pukul 15.00. Pengusaha itu bernama Ls (34).
Tubuh Ls jatuh di tengah lapangan tennis yang terletak di atap lantai tujuh apartemen. Benturan keras dengan lantai lapangan tennis membuat bagian belakang kepala wanita berkulit putih mulus itu pecah serta kedua tangan dan kakinya patah.
Aksi bunuh diri di apartemen ini adalah bunuh diri kelima dari gedung tinggi di Jakarta dalam dua bulan terakhir. Sebelumnya peristiwa serupa terjadi di Grand Indonesia, Senayan City, Manggadua Square, dan Apartemen Gading River View City.
Kapolsektro Gambir, Kompol Yossy Runtukahu, menuturkan bahwa diduga Ls meloncat dari balkon kamar apartemennya di lantai 27. “Sebelum dia loncat, ada salah seorang penghuni apartemen yang mendengar dia berbincang melalui ponsel. Dari nada bicaranya dia sedang marah-marah,” ujarnya.
Pada saat yang hampir bersamaan dengan kematian Ls, Putra, pegawai di tempat usaha wanita asal Sambas itu, dalam perjalanan ke apartemen tersebut untuk menemui majikannya.
Menurut Putra, dia datang ke apartemen atas permintaan sang majikan sekitar setengah jam sebelumnya melalui telepon. “Dia memanggil saya, katanya mau curhat. Katanya di sini (Jakarta) nggak ada tempat lagi buat curhat selain saya,’ ujar Putra di lokasi kejadian.
Dikatakan Kompol Yossy, pihaknya memperoleh informasi bahwa Lindasari baru bercerai dengan suaminya dan diduga mengalami depresi berat. Karena itu, polisi berupaya mencari sang mantan suami, juga mencari anak pengusaha tersebut.
-Pendapat Ahli Mengenai Fenomena Bunuh Diri Terjun dari Ketinggian-
Psikolog Universitas Indonesia (UI) Suhati Kurniawati mengatakan, bunuh diri dengan terjun bebas dari ketinggian yang semakin marak merupakan contagious violence (kekerasan yang menular). Melihat beberapa kasus bunuh diri dari ketinggian di Jakarta dalam dua bulan terakhir, besar kemungkinan para pelakunya memilki latar belakang yang sama, yakni mengalami depresi berat ataupun putus asa.
Di sisi lain, kata Suhati media massa “menularkan dan memberi contoh cara bunuh diri. Media mengilhami orang-orang yang depresi berat dan putus asa untuk melakukan hal yang sama.” ujarnya.
Orang yang mendapat tekanan hidup luar biasa, hingga depresi berat dan putus asa cenderung melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri. Ide untuk bunuh diri dengan cara simpel dan mudah, timbul saat dia melihat di media ada orang yang melakukannya dengan terjun bebas dari ketinggian.
Di luar itu, banyak bangunan tinggi di Jakarta bisa jadi turut mengilhami orang-orang yang putus asa itu untuk meniru aksi-aksi bunuh diri dari ketinggian. Dari data yang dipeoleh menyebutkan, saat ini di Jakarta ada sekitar 1.100 gedung tinggi (gedung dengan 7 tingkat atau lebih).
Ide untuk mati sudah muncul pada seseorang yang sudah berkali-kali mengalami tekanan hidup yang luar biasa bahkan sampai menimbulkan rasa putus asa yang sangat dalam. “Fenomena di kota besar saat ini, semua orang harus bisa survive untuk bertahan hidup. Bagi sebagian orang, ini tekanan yanag luar biasa,” ujar Suhati.
Disisi lain, banyak orang yang tak sadar sudah berada dalam tingkat depresi yang dalam. Menurut Suhati, agar penderita depresi atau orang yang mengalami putus asa bisa terbebas dari depresinya, dia mesti dibantu orang-orang di sekitarnya. “Orang yang depresi perlu pendampingan serius,” katanya.
Suhati mengatakan orang-orang harus jeli dan peka untuk melihat apakah ada anggota keluarga atau sahabatnya yang mengalami depresi ataupun mengalami rasa putus asa yang dalam. ‘kalau sudah kelihatan depresi, ajak dia bicara atau Bantu memecahkan masalah yang membuat dia depresi dan putus asa,” katanya.
Selain itu, ajak orang yang depresi dan putus asa itu melakukan sesuatu yang berguna. Orang depresi dan putus asa akan merasa tak berguna. Bila dia diajak melakukan sesuatu yang berguna maka tingkat depresi akan turun. Suhati juga mengatakan bahwa olahraga merupakan hal yang penting karena dapat memunculkan hormone endhorpin, yakni hormone yang membuat perasaan nyaman. Kalau sudah nyaman maka putus asanya bisa hilang.
Sumber : Warta Kota, Rabu, 16 Desember 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
