Sabtu, 23 April 2011

PRIVASI, RUANG PERSONAL DAN TERITORIALITAS

Nama : Kania Indaningrum
NPM : 10508116
Kelas : 3 PA 06
Isi :

A. PRIVASI

1. Pengertian Privasi
Teori kendala perilaku banyak dikembangkan oleh Altman. Konsep penting dari Altman (Gifford, 1987) adalah bagaimana seseorang memperoleh kontrol melalui privasi agar kebebasan perilaku dapat diperoleh. Dinamika psikologis dari privasi yang optimal terjadi ketika privasi yang dibutuhkan sama dengan privasi yang dirasakan. Privasi yang terlalu besar menyebabkan orang merasa terasing, sebaliknya terlalu banyak orang lain yang tidak diharapkan, perasaan kesesakan (crowding) akan muncul sehingga orang merasa privasinya terganggu.

Selanjutnya dijelaskan oleh Altman (dalam Gifford, 1987) bahwa privasi pada dasarnya merupakan konsep yang terdiri atas proses 3 dimensi. Pertama, privasi merupakan proses pengontrolan boundary. Artinya, pelangganan terhadap boundary ini merupakn pelangganan terhadap privasi seseorang. Kedua, privasi dilakukan dalam upaya memperoleh optimalisasi. Seseorang menyendiri bukan berarti ia ingin menghindarkan diri dari kehadiran orang lain atau keramaian, tetapi lebih merupakan suatu kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu. Ketiga, privasi merupakan proses multi mekanisme. Artinya, ada bnayak cara yang dilakukan orang untuk memperoleh privasi, baik melalui ruang personal, teritorial, komunikasi verbal, dan komunikasi non verbal.

Beberapa definisi tentang privasi mempunyai kesamaan yang menekankan pada kemampuan seseorang atau kelompok dalam mengontrol interaksi panca inderanya dengan pihak lain.

Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki oleh seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutpan, yaitu adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar dengan berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain, dengan mendekati atau menjauhinya. Lang (1987) berpendapat bahwa tingkat dari privasi tergantung dari pola-pola perilaku dalam konteks budaya dan dalam kepribadian dan aspirasi dari keterlibatan individu.

Rapoport (dalam Soesilo, 1988) mendefinisikan privasi sebagai suatu kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan-pilihan dan kemampuan untuk mencapai interaksi seperti yang diinginkan. Privasi jangan dipandang hanya sebagai penarikan diri seseorang secara fisik terhadap pihak-pihak lain dalam rangka menyepi saja.

Dalam hubungannya dengan orang lain, manusia memiliki referensi tingakt privasi yang diinginkannya. Ada saat-saat dimana seseorang ingin beriteraksi dengan orang lain (privasi rendah) dan ada saat-saat dimana ia ingin menyendiri dan terpisah dari orang lain (privasi tinggi). Untuk mencapai hal itu, ia akan mengontrol dan mengatur melalui suatu mekanisme perilaku, yang digambarkan oleh Altman sebagai berikut :
a) Perilaku verbal
Perilaku ini dilakukan dengan cara mengatakan kepada orang lain secra verbal, sejauh mana orang lain boleh berhubingan dengannya. Misalnya “Maaf, saya tidak punya waktu”.

b) Perilaku non verbal
Perilaku ini dilakukan dengan menunjukkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh tertentu sebagai tandai senang atau tidak senang. Misalnya seseorang akan menjauh dengan orang lain, membuang muka yang menandakan bahwa dia tidak ingin berinteraksi dengan orang lain. Sebaliknya dengan mndekati dan menghadap muka, tertawa memberikan indikasi bahwa dirinya siap untuk berkomunikasi dengan orang lain.

c) Mekanisme kultural
Budaya mempunyai bermacam-macam adat istiadat, aturan atau norma, yang menggambarkan keterbukaan atau ketertutupan kepada orang lain dan hal ini sudah diketahui oelh banyak orang pada buaday tertentu (Altman, 1975; Altman & Chemers dalam Dibyo Hartono, 1986).


2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Privasi


• Faktor Personal

Marshall (dalam Gifford, 1987) mengatakan bahwa perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. Dalam penelitiannya, ditenukan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam suasana rumah sesak akan lebih memilih keadaan yang anonim dan reserve saat ia dewasa. Sedangkan orang menghabiskan sbagian besar waktunya di kota akan lebih memilih keadaan yang anonim dan privacy.

• Faktor Situasional
Penelitian Marshall (dalm Gifford, 1987) tentang privasi dalam rumah tinggal, menemukan bahwa tinggi rendahnya privasi di dalam rumah antara lain disebabkan oleh setting rumah. Setting rumah di sini sangat berhubungan seberapa sering para penghuni berhubungan dengan orang, jarak antar rumah dan banyaknya tetangga sekitar rumah. Seseorang yang mempunyai rumah yang jauh dari tetangga dan tidak dapat melihat banyak rumah lain di sekitarnya dari jendela dikatakan memiliki kepuasan akan privasi yang lebih besar.

• Faktor Budaya

Tidak dapat keraguan bahwa perbedaan masyarakat menunjukkan vairasi yang besar dalam jumlah privasi yang dimiliki anggotanya. Dalam masayrakat arab, keluarga-keluarga menginginkan tinggal di dalam rumah dengan dinding yang padat dan tinggi mengelilinginya (Gifford, 1987).


3. Pengaruh Privasi Terhadap Perilaku

Altman (1975) menjelaskan bahwa fungsi psikologis dari perilaku yang penting adalah untuk mengatur interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungan sosial. Bila seseorang dapat mendapatkan privasi seperti yang diinginkannya maka ian akan dapat mengatur kapan harus berhubungan dengan orang lain dan kapan harus sendiri.

Maxine Wolfe dan kawan-kawan (dalam Holahan, 1982) mencatat bahwa pengelolaan hubungan interpersonal adalah pusat dari pengalaman tentang privasi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, orang yang terganggu privasinya akan merasakan keadaan yang tidak mengenakkan. Menurut Westin (dalam Holahan, 1982) dengan privasi kita juga dapat melakukan evaluasi dri dan membantu kita mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri. Otonomi ini meliputi perasaan bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil suatu rangkuman bahwa fungsi psikologis dari privasi dapat dibagi menjadi, pertama privasi memainkan peran dalam mengelola interaksi sosial yang kompleks di dalam kelompok sosial; kedua, privasi membantu kita memantapkan perasaan identitas pribadi.


B. RUANG PERSONAL


1. Pengertian Ruang Personal
Istilah personal space pertama kali digunakan oleh Katz, pada tahun 1973 dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam bidang biologi, antropologi, dan arsitektur (Yusuf, 1991).

Masalah mengenai ruang personal ini berhubungan dengan batas-batas di sekeliling seseorang. Menurut Sommer (dalam Altman, 1975) ruang personal adalah daerah di sekeliling seseorang deangan batas-batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya. Goffman (dalam Altman, 1975) menggambarkan ruang personal sebagai jarak atau daerah di sekita individu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadang menarik diri.

Ruang personal adalah ruang di sekeliling individu yang selalu dibawa kemana saja orang pergi, dan orang akan merasa tergangu jika ruang tersebut diinterferensi (Gifford, 1987). Artinya, kebutuhan terhadap ruang personal terjadi ketika orang lain hadir. Ketidakhadiran orang lain, kebutuhan tersebut tidak muncul. Ruang personal biasanya berbentuk buble dan bukan semata-mata ruang personal tetapi lebih merupakan ruang interpersonal. Ruang personal ini lebih merupakan proses belajar atau sosialisasi dari orang tua. Seringkali orang tua terutama ibu atau anak diminta memberikan ciuman kepada saudaranya. Anak mempelajari aturan-aturan bagaimana harus mengambil jarak dengan orang yang sedah dikenal dan orang yang belum dikenalnya. Oleh karenanya, pengambilan jarak yang tepat ketika berinteraksi dengan orang lain merupakan suatu cara untuk memenuhi kebutuhan ruang personal diri dan orang lain.

Fungsi ruang personal adalah untuk memndapatkan kenyamanan, melindungi diri, dab merupakan sarana komunikasi. Salah satu penelitian besar mengenai ruang personal dilakukan oleh Edward Hall yang bertu tersebut dikaitkan dengan aktivitas setting tersebut. Jika setting dirancangjuan meneliti ruang personal sebagai cara mengirimkan pesan. Menurut Hall, ada kebutuhan dasar manusia untuk mengelola ruang yang disebut dengan proxemics. Dengan memperhatikan jarak yang digunakan antar orang yang sedang berbicara, pengamat dapat menyimpulkan seberapa jauh kualitas hubungan interpersonal mereka. Jarak 0 – 45 cm dikategorikan sebagai jarak intim. Jarak personal dilakukan dalam jarak 3,5 – 7 meter. Jarak intim dilakukan oleh orang yang memang benar-benar mempunyai kualitas hubungan psikis sangat erat, jarak personal, dilakukan dalam berinteraksi dengan teman atau sahabat, jarak sosial dilakukan individu yang tidak dikenal atau transaksi bisnis, sedangkan jarak publik dilakukan oleh para public figure (Fisher, 1984; Gifford, 1997).

Apalagi teori ruang personal terhadap rancangan lingkungan fisik adalah apakah fungsi utama dari lingkungan fisik tersebut dikaitkan dalam setting tersebut. Jika setting dirancang untuk memfasilitasi hubungan interpersonal maka rancangan model sosiofugal yang diperlukan, seperti ruang keluarga, ruang makan ataupun ruang tamu. Sebaliknya, jika setting dirancang untuk tidak memfasilitasi hubungan interpersonal maka rancangan sosiopetal yang diperlukan seperti ruang baca di perpustakaan dan ruang konsultasi.

Ruang personal adalah ruang di sekitar individu yang tidak mengijinkan individu lain memasukinya (Holahan, 1982). Biasanya, ruang tersebut digambarkan sebagai gelembung yang tidak tampak, menyelimuti seseorang, dan dibawa kemana saja. Sifat lainnya adalah dinamis dan berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Namun demikian, ruang personal dikontrol kuat oleh seseorang. Jika terjadi pelanggaran, dianggap sebagai ancaman. Hal ini disebabkan oleh fungsi ruang personal adalah melindungi harga diri seseorang (Dosey & Meisels dalam Gifford, (1987), sehingga menurut teori beban lingkungan, stimulasi informasi tetap dalam kondisi optimal . Ruang personal bagi Altman (Brigham, 1991) merupakan salah satu upaya meningkatkan privasi. Cara memperoleh ruang personal dengan merancang bangunan fisik yang menghambat interaksi sosial (latar sosiopetal). Latar sosiopetal terlihat pada meja makan yang dikelilingi tempat duduk yang saling menatap, sedangkan latar sosiofugal terlihat pada tempat duduk di ruang tunggu pelabuhan udara (Osmond dalam Gifford, 1987).

Banyak penelitian tentang jarak proksemik yang telah dilakukan, varian yang didapat antara lain jarak intim (0 – 0,45 m), jarak pribadi (0,45 – 1,2 m), jarak sosial (1,2 – 3,6 m), jarak publik (>3,6 m). Jika dibagi menjadi subfase pada masing-masing jaraknya, akan didapat hal sebagai berikut :
• Jarak intim
 Fase dekat (0-15 cm) : perlindungan dan kasih sayang, pandangan tidak tajam, tidak perlu suara
 Fase jauh (15-45 cm) : jarak sentuh, tidak layak di muka umum, pandangan terdistorsi, bau tercium, suara berbisik.

• Jarak pribadi
 Fase dekat (0,45-0,75 m) : mempengaruhi perasaan, pandangan terganggu, fokus lelah, tekstur jelas.
 Fase jauh (0,75-12 m) ; pembiacaraan soal pribadi, pandangan baik, suara jelas atau perlahan.

• Jarak sosial
 Fase jauh (2,1-3,6 m) : melihat diri formalitas.
 Fase dekat (1,2-2,4 m) : dominasi dan kerja sama.

• Jarak publik
 Fase jauh (>7,5 m) : pembicara dengan audiens.
 Fase dekat (3,6-7,5 m) : belum saling kenal.

Studi menunjukkan bahwa perbedaan individu dan situasi selain menentukan jarak personal juga mempengaruhi orientasi tubuh seseorang terhadap orang lain. Salah satunya adalah variabel jenis kelamin, misalnya laki-laki menyukai berhadapan (muka-muka) dengan orang yang disukainya, sementara perempuan lebih suka memilih posisi bersebelahan.

Hal ini dibuktikan oleh penelitian Byne, Baskett, dan Hodges (1971) yang melakukan eksperimen, dimana subjek laki-laki dan perempuan dimasukkan ke dalam ruang yang memiliki posisi duduk bersebelahan dan berhadapan dan terdiri dari dua kelompok orang ; yang disukainya dan yang tidak disukainya. Subjek perempuan memilih duduk bersebelahan dengan kelompok yang disukainya.

2. Ruang Personal dan Perbedaan Budaya
Dalam studi lintas budaya yang berkaitan dengan ruang personal, Hall (dalam Altman, 1976) mengamati bahwa norma dan adat istiadat dari kelompok budaya dan etnik yang berbeda akan tercermin dari penggunaan ruangnya, susunan perabot, konfigurasi tempat tinggal dan orientasi yang dijaga oleh individu satu dengan individu lainnya. Contohnya, orang Jerman lebih sensitif terhadap gangguan, memiliki gelembung ruang personal yang lebih besar dan lebih khawatir akan pemisahan fisik ketimbang orang Amerika. Orang-orang Perancis berinteraksi dengan keterlibatan yang lebih dalam. Kebiasaan mereka berupa rasa estetika terhadap fashion merupakn bagian dari fungsi gaya hidup dan pengalaman.

C. TERITORIALITAS


1. Pengertian Teritorialitas
Holahan (dalam Iskandar, 1990), mengungakapkan bahwa teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat yang ditempatinya atau area yang sering melibatkan ciri kepemilikannya dan pertahanan dari serangan orang lain.

Teritori merupakan suatu pembentukan wilayah geografis untuk mencapai privasi yang optimal. Dalam kaitanya dengan usaha memperoleh privasi adalah menyusun kembali setting fisik atau pindah ke lokasi lain. Penyusunan kembali setting dapat dilakukan dengan pembuatan teritori yang diwujudkan seperti membuat pagar, membuat ‘tanda kepemilikan’ atau marking pada lokasi-lokasi di sungai, pegunungan ataupun di bukit (Helmi, 1994).

Teritorial dipandang Sommers sebagai tempat yang dimiliki atau dikontrol individu atau kelompok (Fisher et al., 1984). Menurut teori beban lingkungan, territorial berfungsi menurunkan jumlah dan kompleksitas stimulasi. Teritorial menurut pandangan ekologis merupakan upaya mempertegas batas-batas kepemilikan sumberdaya, batas antara pemiliki dan bukan pemilik. Teritorial menurut teori kendala perilaku merupakan upaya meningkatkan kontrol personal terhadap lingkungan sehingga privasi yang optimal dapat tercapai. Diperolehnya kontrol personal merupakan dasar pengembangan identitas personal (Edney dalam Holahan, 1982).

Teritorialitas memiliki lima ciri yang menegaskan : 1 ) ber-ruang, 2) dikuasai, dimiliki atau dikendalikan oleh seorang individu atau kelompok, 3) memuaskan beberapa kebutuhan (misalnya status), 4) ditandai baik secara konkrit atau simbolik, 5) dipertahankan atau setidaknya orang merasa tidak senang bila dimasuki atau dilanggar dengan cara apapun oleh orang asing.

Menurut Lang (1987), terdapat empat karakter dari teritorialitas, yaitu :
• Kepemilikan atau hak dari suatu tempat
• Personalisasi atau penandaan daris uatu area tertentu
• Hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar, dan
• Pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasaan kognittif dan kebutuhan-kebutuhan mereka

Altman membagi teritorialitas berdasarkan derajat privasi, afilasi dan kemungkinan pencapaian menjadi tiga : teritori primer, teritori sekunder dan teritori publik.
• Teritori primer, adalah tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya, hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat akrab atau yang sudah mendapatkan izin khusus. Teritori ini dimiliki oleh individu ataupun kelompok orang yang juga mengendalikan penggunaan teritori tersebut secara relatif tetap, berkenaan dengan kehidupan sehari-hari ketika terlibat psikologis di dalamnya cukup tinggi. Misalnya ruang tidur atau ruang kantor. Meskipun ukuran dan jumlah penghuninya tidak sama, kepentingan psikologis dari teritori primer bagi penghuninya selalu tinggi.

• Teritori sekunder, adalah tempat-tempat yang dimiliki bersama oelh sejumlah orang yang sudah cukup saling mengenal. Kendali pada teritori ini tidaklah sepenting teritori primer dan kadang berganti pemakai, atau berbagai penggunaan dengan orang asing. Misalnya, ruang kelas, kantin kampus, dan ruang latihan olahraga.

• Teritori publik, adalah temapt-tempat yang terbuka untuk umum. Pada prinsipnya setiap orang diperkenankan untuk berada di tempat tersebut. Misalnya pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, lobby, ruang sidang pengadilan yang dinyatakan terbuka untuk umum.



 Hubungan Antara Privasi, Ruang Personal dan Teritorilaltas

Altman (1975) mengajukan suatu model yang menghubungkan privasi, ruang personal dan kesesakan dengan menganggap “sesak sebagai akibat dari kegagalan mencapai tingkat privasi yang diinginka.


Isolasi Sosial
(Privasi yang didapat >
Privasi yang diinginkan)



Privasi Mekanisme kontrol Hasil Optimum
yang diinginkan (Privasi yang (Privasi yang didapat =
(ideal) Interpersonal didapat) Privasi yang diinginkan)
- Personal Space
-Teritorialitas
-Perilaku Verbal
-Perilaku Non Verbal



Kesesakan
(Privasi yang didapat <
Privasi yang diinginkan)


Sumber :
elearning.gunadarma.ac.id/...psikologi_lingkungan/bab5-ruang_personal_dan_teritorialias.pdf.
elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/...lingkungan/bab6-privasi.pdf

Anonim. (2003). Bab 2 Kajian Pustaka. http://repository.upi.edu/operator/upload/s_e0151_044161_chapter2.pdf. 19 April 2011.

Fadilla Helmi, Avin. (1999). Beberapa Teori Psikologi Lingkungan. http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/psikologilingkungan_avin.pdf. 19 April 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar