Kamis, 17 Desember 2009

PRIA POSESIF

A. Pengertian Posesif

Posesif sering dikategorikan sebagai rasa tidak percaya diri dan tidak yakin diri, sehingga saat ada yang mencintainya dan mau menerima dirinya sebagai pasangannya, maka dia akan menguasai pasangannya karena selalu diliputi ketakutan kehilangan rasa cinta pasangan.
Mengenai hal itu, A Kasandra Putranto, Psi, dari Kasandra Persona Wacana menuturkan. "Posesif pada dasarnya adalah orang yang memang punya kebutuhan yang lebih banyak daripada orang lain untuk pengakuan atau kepastian tentang hubungan cinta dan sikap. Ketika orang atau pasangannya tidak mau memenuhi hal tersebut, maka menjadi problem," kata Kasandra, Kamis (20/3/2008).

B. Karakteristik Pria Yang Posesif

1. Sifat posesif akan muncul terutama ketika mereka yang memilki kebutuhan berlebihan itu tidak mendapat perhatian seperti ynag diharapkan.
2. Pria posesif merasa kurang diperhatikan pasangannya, maka akan uring-uringan atau bahkan pada takaran yang jauh lebih ekstrim. Pria posesif dapat melanggar hak asasi manusia, karena menganggap wanita sebagai barang yang bila tidak dimilkiknya, maka tidak bkoleh pula dimiliki orang lain.
3. Biasanya pria posesif memilki standar yang lebih tinggi. Sehingga pasangannya tidak bisa memenuhinya, pasti akan menimbulkan masalah. Namun, ketika mereka dipermasalahkan maka akan semakin tidak nyaman dan sensitive. Hingga memicunya melakukan tindak kekerasan yang bersifat emosional, abaik fisik maupun psikis, dengan tujuan membuat pasangannya jera.
4. Pria posesif bisa sangat ekstrim hingga mengancam akan bunuh diri bahkan bisa pula kebalikannya. Mereka bisa meletakkan kondisi dimana mereka victim atau bisa pula mengancam pasangannya.

C. Cara Menghadapi Pria Posesif

Meski demikian, menurut Kasandra, Anda tak perlu takut untuk berhubungan dengan pria posesif. "Kalau kita bisa menikmati cinta pria posesif itu sangat menyenangkan. Karena pada dasarnya pria posesif itu sangat perhatian dan penuh cinta kasih. Jadi bagaimana cara kita menyikapinya,
pria posesif tidak hanya dilihat pada satu elemen saja, tapi pada penerimaannya. Ketika kita bereaksi ketika menerimanya, bukan memahami, maka semakin pria posesif geram. Karena itu, keputusan untuk menjalin hubungan dengan pria posesif berada di tangan Anda. Kalau Anda tidak suka dengan pressure sebaiknya hindari pria posesif, tapi kalau Anda termasuk yang tahan dengan perlakuan posesif, maka jalani dengan sebaik mungkin," ujarnya.

Selama dampak dari sikap posesif masih dalam tahap yang bisa ditolerir, pastinya tak ada masalah. Tapi, kalau dampaknya sudah menyakiti kalian atau menyakiti dirinya sendiri akan jauh lebih baik kalau segera diakhiri. Karena hubungan yang tujuan awalnya ingin membangun kasih sayang tapi kalau justru menjadi ajang saling menyakiti kenapa juga harus dipertahankan??
Memang bukan hal mudah mengakhiri hubungan dengan orang posesif. Karena, akan ada banyak intimidasi baik secara fisik, verbal maupun secara psikis. Tapi, kalau kalian tidak mau menghabiskan hidup dalam ‘penjara’, memutuskan hubungan akan menjadi jalan yang bisa dipertimbangkan.

Apalagi kalau pacar kamu sudah mulai main kasar dan menyakiti tak hanya perasaan tapi juga fisik. Artinya, kalau pacar sudah membuat hubungan tidak sehat, sudah saatnya diakhiri. Memang sangat dibutuhkan ketegasan saat mengambil keputusan sebelum mengakhiri sebuah hubungan. Karena, bisa saja si posesif melakukan tindakan nekat yang kadang memunculkan kembali rasa ragu dalam mengambil keputusan, Sebut saja, ancaman bunuh diri, menyilet urat nadi, tidak mau kuliah lagi atau banyak alasan lain yang bisa saja memunculkan beban dan rasa khawatir kamu sebagai pacarnya.
Sehingga, sebelum keputusan putus diambil, tak ada salahnya meminta bantuan pada orang yang terbuka dan kita percaya. Setidaknya, ada orang lain yang memahami persoalan yang sedang kamu hadapi. Misalnya aja sahabat atau orang yang dekat sama kamu.

Lalu bagaimana jika pacar kalian yang posesif tidak mau putus dan justru berjanji akan berubah??
Kalau kalian masih sayang dan yakin bisa bertahan, tidak ada salahnya juga memberikan kesempatan kedua pada pacar kalian untuk berubah. Tapi, kalau kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik, semuanya kembali pada kalian apakah sanggup menjalani hubungan tidak sehat seperti itu.

Sumber : www.okezone.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar